Carding Adalah, Pengertian dan Dampak Buruk

Carding Adalah – Di era yang semakin modern dan canggih ini, teknologi semakin meningkat dengan pesat. Begitu pula dengan kriminalitas.

Selain menawarkan kemudahan dan membantu pekerjaan manusia, teknologi juga bisa menjadi alat kriminal bagi oknum nakal. Dengan bantuan dari teknologi, para kriminalitas sekarang lebih cerdas dengan menggunakan teknologi sebagai sumber kejahatan atau yang lebih di kenal dengan “Carding.”

Meski keamanan juga diperketat, tetap saja ciptaan manusia ada celahnya. Melalui rongga-rongga itulah, para pelaku carding beraksi. Cyber crime carding merupakan penipuan belanja dengan mencuri identitas sekaligus kartu kredit orang lain.

Biasanya para pelaku carding mengantongi informasi kartu kredit dari situs gelap di internet atau mencuri data. Sasaran utama komplotan itu adalah situs-situs berbasis e-commerce atau yang prioritas website-nya adalah jual beli.

Dari situ mereka membaca database identitas kartu kredit sejuta umat. Penasaran dengan jenis kejahatan itu, tim Zetizen melakukan penelusuran dengan menyamar sebagai pembeli. Ternyata, komplotan itu cenderung beraksi secara kolektif!

Carding Adalah, Pengertian dan Dampak Buruk

Carding adalah kejahatan dengan menggunakan teknologi komputer untuk melakukan transaksi dengan menggunakan kartu kredit orang lain sehingga dapat merugikan orang tersebut baik materil maupun non-materil.

Baca Juga :  6 Cara Menggunakan Aplikasi Canva di Android

Carder adalah sebutan yang digunakan untuk menamakan para pelaku kejahatan Carding. Menurut IFFC (Internet Fraud Complaint Centre salah satu unit dari FBI), Carding adalah “Penggunaan yang tidak sah dari kartu kredit atau kartu debit Fraudlently untuk memperoleh uang atau properti dimana kartu kredit atau nomor kartu debit dapat dicuri dari situs web yang tidak aman atau dapat diperoleh dalam pencurian identitas scheme.

Lalu, apasih Dampak yang ditimbulkan jika kita menggunakan jasa dari para Carder?

Carding Adalah, Pengertian dan Dampak Buruk

Diturunkan Paksa dari Pesawat

Seorang Zetizen tergiur dengan tawaran temannya yang menjual tiket pesawat kelas bisnis salah satu maskapai ternama di Indonesia. Tiket menuju Jakarta itu ternyata membuat dia diusir petugas saat udah duduk di seat pesawat! Ternyata, tiket itu dihargai Rp 1 juta, padahal harga aslinya mencapai Rp 3 juta. Meski sempat berdebat dengan petugas sebelum pesawat take off, tiketnya dinyatakan nggak valid sehingga dia tetap harus turun dari pesawat.

Baca Juga :  Cara Menggunakan USB WiFi Adapter

Mendadak Di-Cancel

Ada juga seorang Zetizen lain yang mendapat tawaran tiket murah dari broadcast BlackBerry Messenger (BBM). Dia pun tergiur membeli tiket pesawat pergi pulang Surabaya–Bali. Tapi, permasalahan baru timbul saat dia akan pulang menuju Surabaya. Ternyata, tiket yang didapatnya udah di-cancel. Dia pun langsung konfirmasi kepada penjual. Meski mendapat tiket pengganti, berkali-kali pula tiket itu di-cancel tiba-tiba. Akhirnya, dia pulang naik bus deh.

Dituduh Pegang Tiket Palsu

Efek ekstrem terjadi pada seorang Zetizen yang memercayakan tiket dan penginapan kepada salah satu kenalannya. Saat check in penerbangan melalui konter, sang petugas menjelaskan bahwa tiketnya sudah di-refund. Setelah adu mulut, beberapa petugas keamanan dan pihak maskapai penerbangan datang menghampirinya dan membawanya ke kantor. Rasa malu menyelimutinya karena dia dituduh membeli tiket abal-abal. Kasihan banget kan?

Double Seat

Cyber crime carding kerap ditawarkan untuk perjalanan ke luar negeri. Seperti kisah seorang Zetizen yang memesankan tiket Hongkong-Jakarta buat ayahnya. Iming-iming harga murah membuat sang ayah tertarik. Permasalahan muncul ketika sang ayah udah duduk di salah satu seat pesawat. Lalu, ada orang lain yang mengaku memiliki nomor seat yang sama. Karena kejadian itu, sang ayah harus rela menginap di Bandara Hongkong meski akhirnya dapat tiket pengganti.

Baca Juga :  10 Cara Mengatasi HP Xiaomi Lemot Saat Main Game

Kamar Hotel Nggak Terpesan

Efek lain juga terjadi pada seorang Zetizen yang berlibur ke Jogja dan tergiur tawaran harga murah kamar hotel bintang 4. Kejadian itu membuatnya harus keluar dari hotel tengah malam. Padahal, dia telah memesan satu kamar untuk tiga malam. Pada pukul 22.00, ketika dia sampai di hotel untuk istirahat, pihak hotel menyatakan kamar yang dipesannya nggak ada. Meski dia menunjukkan bukti pembayaran, namanya tetap nggak tercantum di sistem pemesanan hotel.

Nah, sekarang kamu sudah mengetahui apa itu carding dan dampaknya pada pengguna jasa carder. So, sebisa mungkin kamu jangan terjerumus ke jasa para carder ini ya!